Transformasi dan Manajemen Adaptif di Perguruan Tinggi

Oleh: Putra

Perubahan dunia yang semakin cepat dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, memacu perguruan tinggi melakukan transformasi dan mengubah kompetensi lulusan demi memenuhi kebutuhan masyarakat. Menyikapi fenomena tersebut, Magister Manajemen Pendidikan Tinggi (MMPT) UGM menggelar seminar nasional bertema “Transformasi Pendidikan Tinggi Indonesia: Manajemen Adaptif Menghadapi Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi” pada Sabtu, 26 November 2022 di Hotel Horta Ambarukmo, Yogyakarta. Bertindak sebagai pembicara yaitu Prof. Dr. Illah Sailah (Rektor Universitas Binawan), Prof. Dr. Sahid Susanto (Dosen MMPT UGM), dan dr. Titi Savitri Prihatiningsih, Ph.D.

Dr. Wahyu Supartono sebagai ketua program studi MMPT UGM menyampaikan, “adanya pandemi covid-19 memaksa kita melakukan adaptasi dengan cepat dan tepat dalam segala aspek kehidupan termasuk sektor pendidikan. Ada perubahan metode penyampaian pembelajaran dari tatap muka menjadi online atau dalam jaringan (daring). Hal ini membuat perguruan tinggi harus dengan cepat beradaptasi dan menyesuaikan proses pembelajaran dengan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir ini, agar capaian pembelajaran dan kompetensi lulusan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Selain itu, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI telah membuat program Merdeka Belajar, Kampus Merdeka (MBKM) dengan tujuan agar mahasiswa lebih dekat dan mudah beradaptasi dengan dunia kerja. Kondisi tersebut perlu disikapi dengan bijak dengan mendengar masukan dari para ahli di seminar ini” ungkapnya.

Pada sesi pertama Prof. Sahid Susanto memaparkan, “majunya ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa adanya penelitian yang mumpuni adalah tidak mungkin. Penelitian di perguruan tinggi akan mendukung dunia industri. Pertanyaannya adalah kita mau menjadi research university atau teaching university. Jika kita ingin menjadi research university, konsekuensinya perlu didesain environment research and facility, jumlah mahasiswa harus lebih sekidit dengan mayoritas mahasiswa S2 dan S3, harus ada arsitektur keilmuannya sebagai branding, dan membutuhkan dana jumbo untuk mendukung penelitian. Jangka panjang jika aktivitas penelitian ini terus menerus dilakukan, maka akan terbentuklah culture research” terangnya.

Lebih lanjut Prof. Sahid juga menjelaskan sebagai teaching university, Angka Partisipasi Kasar (APK) lulusan SMA yang kuliah di perguran tinggi mengalami kenaikan cukup pesat dari 18% di era Presiden Soeharto sampai sekarang 33%. Banyaknya kampus swasta, beasiswa, dan ditambahnya daya tampung mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri akan banyak anak Indonesia yang merasakan pendidikan tinggi.

Adapun sesi kedua seminar ini, mengulas “Peran Leadership dalam Pelaksanaan Program Pendidikan Tinggi” yang disampaikan oleh Leenawaty Limantara, Ph.D (Rektor UPJ), Prof. Dr. Nurhayati (Universitas Jambi), dan Dr. Gentur Sutapa. Para pembicara lebih banyak berbagi pengalaman memimpin dan kebijakan yang diambil saat menghadapi berbagai permasalahan kampus.

BAGIKAN SEKARANG :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
!