Politik Nabok Nyilih Tangan

Oleh: Hendra Sugiantoro

            Singasari, kerajaan di Pulau Jawa, eksis pada abad ke-XII. Terletak di sebelah timur Gunung Kawi di hulu Sungai Brantas. Semula kerajaan ini bernama Tumapel. Ketika pemerintahan Ranggawuni (1248-1254), ibukota kerajaan dipindahkan dari Kotaraja ke Singasari. Seiring waktu berjalan, penyebutan Kerajaan Singasari lebih populer daripada Kerajaan Tumapel. Kerajaan Singasari didirikan oleh Ken Arok. Kisah cintanya dengan Ken Dedes melegenda sampai kini dan senantiasa menjadi inspirasi penulisan oleh para sastrawan. Dalam sejarahnya, Kerajaan Singasari tak terlepas dari intrik kekuasaan.

            Alkisah, wilayah Tumapel—cikal bakal Kerajaan Singasari—berada di bawah kekuasaan Kerajaan Kadiri sejak pemerintahan Sri Samarawijaya (1042-?), Kamesywara (1116-1135), Jayabhaya (1135-1159), Rakai Sirikan (1159-1169), Sri Aryeswara (1169-1171), Sri Gendra (1171-1182) hingga Kertajaya. Jayabhaya, selain mengantarkan Kerajaan Kadiri pada kejayaan, dikenal dengan Serat Jayabhaya yang isinya masih menggoda untuk ditelaah.

            Saat pemerintahan Kertajaya (1182-1222), Tunggul Ametung diangkat sebagai akuwu di Tumapel. Akuwu adalah pangkat atau posisi yang sejajar dengan bupati pada zaman sekarang. Tunggul Ametung inilah yang memperistri Ken Dedes secara paksa.

            Di tangan Tunggul Ametung, wilayah Tumapel semakin berkembang dan maju. Bala pasukannya disegani. Terjadi beda tafsir soal kematian Tunggul Ametung. Menurut Ki J. Padmapuspita, Kertajaya yang melihat kemajuan Tumapel curiga dengan Tunggul Ametung. Bisa-bisa muncul matahari kembar di Kerajaan Kadiri. Kertajaya pun menyuruh Kebo Ijo melenyapkan nyawa Tunggul Ametung dengan balas jasa menjadikannya akuwu di Tumapel. Dengan keris buatan Mpu Gandring, Kebo Ijo berhasil membunuh Tunggul Ametung. Namun, sebelum menduduki posisi akuwu di Tumapel, Kebo Ijo keburu tewas di tangan Ken Arok.

            Sedangkan menurut Prof. Dr. Nugroho Notosusanto, pembunuh Tunggul Ametung adalah Ken Arok.      Sejalan dengan Serat Pararaton, Ken Arok adalah pembunuh Tunggul Ametung melalui keris buatan Mpu Gandring. Pembunuhan ini berlatar belakang hasrat Ken Arok mempersunting Ken Dedes. Ken Arok akhirnya menjadi penguasa Tumapel dan memperistri Ken Dedes. Ken Arok juga memperistri Ken Umang. Bersama Ken Umang inilah Ken Arok mengudeta kekuasaan Kertajaya.

            Beragam interpretasi sosok pembunuh Tunggul Ametung memang tak terhindarkan. Dalam politik Jawa, pola ini dikenal dengan istilah nabok nyilih tangan (menggunakan tangan orang lain untuk memuluskan ambisi kekuasaan) dan sebenarnya masih diterapkan dalam politik Indonesia mutakhir. Kalau kita pernah membaca roman Arok Dedes, ada kalimat digoreskan Pramoedya Ananta Toer, “Jatuhkan Tunggul Ametung seakan tidak karena tanganmu. Tangan orang lain harus melakukannya. Dan orang itu harus dihukum di depan umum berdasarkan bukti tak terbantahkan. Kau mengambil jarak secukupnya dengan peristiwa itu.”

            Berusia 70 tahun—tak sampai seabad, Kerajaan Singasari telah meninggalkan catatan cerah sekaligus kelam yang senantiasa terekam. Selama itu, kerajaan ini telah dipimpin lima raja, yakni Ken Arok (1222-1227), Anusapati (1227-1248), Apanji Tohjaya (1248), Ranggawuni (1248-1254), dan Kertanagara (1254-1292).

            Disebutkan bahwa Ken Dedes telah mengandung benih Tunggul Ametung ketika diperistri Ken Arok. Anak yang dinamakan Anusapati ini merasakan pembedaan kasih sayang dari Ken Arok yang lebih menyayangi anak-anak dari benihnya sendiri. Lambat laun, rahasia Anusapati adalah anak dari Tunggul Ametung terbuka. Anusapati menyuruh seseorang untuk membunuh Ken Arok dengan keris Mpu Gandring. Misi berhasil, Anusapati pun memerintah Kerajaan Singasari.

            Kekuasaan Anusapati pun berakhir tragis. Apanji Tohjaya, putra Ken Arok dan Ken Umang, tak terima setelah mengetahui aktor intelektual kematian ayahnya. Tanpa orang suruhan, Apanji Tohjaya menyarangkan sendiri keris Mpu Gandring ke tubuh Anusapati. Apanji Tohjaya pun naih tahta dan juga berhasrat menyingkirkan Ranggawuni, putra Anusapati. Namun, pertempuran sengit ini dimenangkan Ranggawuni dengan menusukkan tombak ke tubuh Apanji Tohjaya. Jadi, soal keris Mpu Gandring membunuh sampai tujuh keturunan hanya mitos belaka.

            Selama pemerintahan Ranggawuni, Kerajaan Singasari mulai memancarkan cahaya kejayaannya. Tak ada lagi intrik-intrik politik. Di masanya, Kerajaan Singasari meningkatkan hubungan eksternal melalui jalur laut dengan meresmikan pelabuhan Changgu pada tahun 1271. Pendapatan kerajaan dari perdagangan hasil pertanian dan laut meningkat dan berpengaruh pada kesejahteraan rakyat. Setelah Ranggawuni mangkat, kedudukannya digantikan anaknya, Kertanagara.

            Kertanagara merupakan raja terbesar Kerajaan Singasari. Selama menjabat, Kertanagara menyatukan agama Hindu aliran Siwa dengan agama Buddha aliran Tantrayana. Maka, dalam Pararaton, Kertanagara dikenal dengan nama Bhatara Siwa Buddha. Sementara itu, dalam Nagarakretagama, Kertanagara yang menyatukan dua ajaran agama itu memperoleh gelar Sri Jnanabajreswara. Satu-satunya bukti sejarah yang menunjukkan penyatuan kedua agama tersebut adalah patung Jina Mahakshobhya yang terdapat di Taman Apsari, Surabaya. Patung yang populer dengan nama Jaka Dolog ini berada di situs Kandang Gajah.

            Di sisi lain, sebelum Gajah Mada melakukan Sumpah Amukti Palapa, Kertanagara telah mengonsep dan merintis penyatuan wilayah-wilayah di Nusantara. Upaya ini relatif berhasil, baik melalui ekspedisi Pamalayu maupun lewat perkawinan antara Raja Campa dengan adik perempuannya. Misi yang pertama, Kerajaan Singasari di bawah Kertanagara berhasil menguasai daerah kekuasaan Sriwijaya. Sedangkan misi yang kedua, Kerajaan Singasari meluaskan kekuasaan sampai Kerajaan Campa.

            Kekuasaan Kertanagara tamat setelah dikudeta Jayakatwang pada tahun 1292. Tak lama kemudian, Raden Wijaya, menantu Kertanagara, membunuh Jayakatwang pada tahun 1293 dan mendirikan kerajaan di hutan Tarik, Trowulan, dengan nama Majapahit. Di era Majapahit, gagasan politik Kertanagara menemukan momentumnya kembali semasa pemerintahan Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328-1350) ketika Gajah Mada menjadi patih menggantikan Arya Tadah.

            Jadi, Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa saat pemerintahan Tribhuwana Wijayatunggadewi. Ketika Hayam Wuruk bertahta, Gajah Mada masih menjabat sebagai patih. Kekuasaan Majapahit secara perlahan terus meluas. Agenda penyatuan Nusantara tidak berhenti. Bagi sebagian sejarawan, misi Gajah Mada ini malah disebut penjajahan, sebab melakukan penaklukan-penaklukan yang sebenarnya tak dikehendaki oleh daerah taklukkannya.

            Dalam sastra klasik, kita mengenal Kitab Para Datu. Kitab ini disebut juga sebagai Serat Pararaton atau Pustaka Raja. Kendati bersifat anonim, kitab ini bisa dijadikan sebagai salah satu rujukan perbandingan dalam menuliskan sejarah Kerajaan Singasari dan Kerajaan Majapahit. Kitab Para Datu mengajarkan kepada kita perihal sesiapa menebar kebaikan akan menuai kebaikan. Sebaliknya, sesiapa menanam kejahatan akan memetik kejahatan pula.

            Bagaimana pun, tak ada sisi positif dalam intrik kekuasaan, bahkan justru meruntuhkan kejayaan yang telah dirintis para pendahulu. Kita tidak bisa menutup mata terhadap fakta penghalalan segala cara dalam jatuh bangunnya Kerajaan Singasari. Bagaimana pun, nabok nyilih tangan dalam jagat politik rumit terbukti. Pola nabok nyilih tangan bukan melulu soal kudeta, tetapi juga bisa terkait kasus lain, misalnya korupsi.

            Dalam dunia politik, seorang politisi bisa saja memainkan peran Ken Arok dan Tunggul Ametung bergantian. Taktik ala Ken Arok telah dilakukan berulang-ulang semasa Kerajaan Singasari. Begitu pula ketika Jayakatwang menggulingkan Kertanagara. Pun, sebelum berdiri Kerajaan Majapahit, ketika Raden Wijaya menggulingkan Jayakatwang.

            Sejarah itu sangat berguna. Indonesia perlu belajar dari sejarahnya sendiri agar politik kekuasaan dijalankan demi kemaslahatan bangsa. Politik nabok nyilih tangan memang terkesan canggih dan aduhai, namun tanpa sadar berdampak negatif bagi masa depan anak cucu. Wallahu a’lam.

Hendra Sugiantoro

Penikmat Sejarah dan Penulis Buku di Jogja

BAGIKAN SEKARANG :

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!
!