Perempuan Merah Putih Bergelar Syekhah

Oleh: Hendra Sugiantoro

Rahmah El-Yunusiyyah lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, 29 Desember 1900. Ibunya bernama Rafi’ah. Muhammad Yunus bin Imanuddin bin Hafazhah, ayahnya, merupakan salah seorang ulama terpandang di masanya. Salah satu kakaknya bernama Zainuddin Labay, dikenal sebagai tokoh pembaharuan yang mendirikan Diniyyah School pada 10 Oktober 1915. Dalam konteks pendidikan formal, Merle Calvin Ricklefs dalam buku Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 menyebut pendidikan kaum perempuan Islam dimulai pada tahun 1915 ketika sekolah ini dibuka.

Rahmah tidak menempuh pendidikan formal secara berjenjang. Kemahiran membaca dan menulis huruf Latin dan Arab didapatkan dari kedua kakaknya, Zainuddin Labay dan Muhammad Rasyad. Saat berusia 15 tahun, ia ikut belajar di Diniyyah School sampai tamat. Pada tahun 1922 didirikan Persatuan Murid-murid Diniyyah School (PMDS) dan Rahmah ditunjuk sebagai ketua untuk bagian putri.

Rahmah juga menimba ilmu dari berbagai ulama. Salah satunya dari Haji Abdul Karim Amrullah, ayah Buya Hamka. Rahmah juga berguru kepada Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim, Syekh Abdul Latif Rasyidi, Syekh Muhammad Djamil Djambek, dan Syekh Daud Rasyidi. Tidak hanya mempelajari ilmu agama, ia juga tekun mempelajari pula ilmu-ilmu umum.

Pada 1 November 1923, Rahmah mendirikan lembaga pendidikan khusus perempuan. Dalam perkembangannya, lembaga pendidikan ini populer dengan nama “Perguruan Diniyyah Puteri”. Di masa awal berdirinya dinamakan Al-Madrasatul Diniyyah lil Banat. Ketika mendirikan lembaga pendidikan, Rahmah memiliki berbagai pertimbangan. Menurutnya, ada ilmu, wawasan, pengetahuan, dan keterampilan tersendiri bagi perempuan yang tak mungkin didapatkan sepenuhnya jika harus belajar bersama dengan laki-laki.

Lebih dari itu, Rahmah berkehendak membimbing dan mendidik perempuan agar lebih berilmu, cerdas, dan terampil. Apapun latar belakang sosial dan ekonominya, perempuan wajib menuntut ilmu. Perempuan sesuai kodratnya perlu diorientasikan menjadi ibu pendidik bagi anak-anaknya dan bisa berkontribusi positif bagi masyarakat. Nama Al-Madrasatul Diniyyah lil Banat lantas diubah menjadi Diniyyah School Puteri. Hal ini strategi menjangkau kaum perempuan semua kalangan, baik masyarakat berpendidikan Barat, golongan masyarakat Islam, dan golongan masyarakat budaya Indonesia.

Lembaga pendidikan milik Rahmah awalnya menempati Serambi Masjid Pasar Usang di dekat rumahnya. Rahmah mengajak beberapa temannya di PMDS bersumbangsih sebagai pengajar. Jumlah muridnya 71 orang yang terdiri dari ibu rumah tangga dan remaja putri. Usaha perintisan tidak langsung berjalan lancar. Namun, kegigihan Rahmah menjadikan sekolah sederhana itu diminati masyarakat. Tak hanya anak puteri di sekitar tempat tinggalnya, tetapi juga dari luar kota. Rumah Rahmah dijadikan asrama murid luar kota.

Zainuddin Labay tidak sempat menyaksikan perkembangan pesat sekolah tersebut, karena meninggal dunia pada 10 Juli 1924. Kendati ditinggal kakaknya menghadap Tuhan, tekadnya membesarkan sekolah tetap besar. Yang perlu dilakukan Rahmah terlebih dahulu adalah mendapatkan tempat representatif. Ia pun menyewa sebuah bangunan. Sedangkan meja, papan tulis, dan bangku diadakan dengan cara meminjam. Pengadaan alat-alat kelengkapan sekolah ini juga mendapatkan sokongan dari para orangtua murid dan orang-orang yang bersimpati.

Pada tahun 1926 terjadi gempa bumi di Padang Panjang dan meruntuhkan bangunan itu. Rahmah tak putus asa. Ia berpikir untuk memiliki bangunan sendiri. Ada tanah milik Rafi’ah, ibundanya, yang bisa didirikan bangunan. Membangun gedung sekolah yang layak dan sarana-prasarana yang memadai membutuhkan biaya sangat besar. Apalagi konsepnya juga berasrama. Selain menggunakan hartanya dan dana dari orangtua murid, ia juga menghimpun dana dengan mengelilingi berbagai daerah.

Selain di wilayah Sumatera, ia juga berkeliling sampai ke Semenanjung Melayu (kini Malaysia). Rahmah juga memperkenalkan lembaga pendidikannya. Buya Hamka (1969) mengenang, “Di samping mendidik murid-muridnya, sekali-sekali dia melawat mengelilingi Sumatera atau Semenanjung Tanah Melayu. Dimasukinya istana raja-raja dan sultan-sultan. Dia menjadi guru juga dari puteri-puteri istana.”

Dana berhasil didapatkan Rahmah. Ada yang memang disedekahkan, ada pula yang hanya pinjaman. Pembangunan gedung pun dimulai pada bulan Desember 1927 dan sudah layak digunakan pada Oktober 1928 dengan menampung 275 murid dari total 350 murid. Sedangkan 75 murid lainnya tinggal di rumah sendiri di Padang Panjang. Kurikulum pembelajaran pun dilaksanakan sebaik-baiknya. Selain pendidikan keagamaan, pelajaran olah raga, kesehatan, kesenian, bahasa, dan sebagainya juga diberikan. Para murid dibekali dengan keterampilan-keterampilan, seperti memasak, menjahit, menganyam, dan semacamnya.

Rahmah piawai berorasi. Buya Hamka (1969) menuturkan, “Kadang-kadang beliau mengadakan pidato agama di hadapan beribu-ribu manusia, laki-laki dan perempuan.” Rahmah melatih murid-muridnya beretorika dan berorasi di hadapan publik. Rahmah juga mendirikan Sekolah Tenun pada tahun 1936. Sebelum itu, pada tahun 1935, Rahmah mendirikan sekolah diniyyah di Jakarta, bertempat di Gang Nangka Kwitang, Meester Cornelis (Jatinegara), dan Kebon Kacang Tanah Abang.

               Junaidatul Munawaroh (2002) menerangkan masa pendidikan Diniyyah School Puteri ditempuh selama 7 tahun secara berjenjang dari tingkat Ibtidaiyah (4 tahun) dan Tsanawiyah (3 tahun).Diniyyah School Puteri bertujuan mencetak guru. Guru-guru tamatan sekolah tersebut diminta mengajar tidak hanya di daerah Sumatera Barat, tetapi juga di luar daerah, seperti Siak Sri Inderapura (Riau), Jambi, Tapanuli, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, bahkan juga Singapura dan Malaya.

            Karena calon guru harus ditingkatkan kompetensinya, didirikan Kulliyat al-Mu’allimat al-Islamiyah pada tahun 1937 sebagai sekolah lanjutan. Rahmah juga mendirikan Kulliyat al-Mu’allimin al-Islamiyah pada tahun 1939 untuk pendidikan calon guru putra. Pada tahun 1964, Rahmah mendirikan universitas khusus puteri Al-Jami’atud Diniyyah lil Banat dengan satu fakultas, yakni Fakultas Tarbiyah dan Dakwah. Fakultas ini diubah menjadi Fakultas Dirasat Islamiyah pada tahun 1969. Surat Keputusan Menteri Agama RI No. 117/1969 juga mempersamakan lulusannya dengan lulusan Fakultas Ushuluddin IAIN (Emma Yohana M, 1981).

Pada tahun 1950-an, Rektor Universitas Al-Azhar Dr. Syaikh Abdurrahman Taj dan timnya mengadakan kunjungan ke lembaga pendidikan yang didirikan Rahmah. Lembaga pendidikan milik Rahmah menginspirasi Universitas Al-Azhar mendirikan Kulliyatul lil Banat. Pada tahun 1957, Universitas Al-Azhar mengundang Rahmah dan memberikan gelar “syeikhah”. Penyematan gelar ini pertama kalinya kepada perempuan. Sejak saat itu banyak negara di Timur Tengah yang menaruh perhatian terhadap lembaga pendidikan yang didirikan Rahmah.

Perempuan Merah Putih bergelar syaikah ini mengakhiri usianya di dunia ini pada Rabu, 26 Februari 1969 atau 9 Dzulhijjah 1388 H. Wallahu a’lam.

Hendra Sugiantoro

Penulis buku Rahmah El-Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia (2021)

BAGIKAN SEKARANG :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
!