Pembajak Buku dan Penghakiman Karya Intelektual

Oleh: Edo Segara

“Selama regulasi belum berpihak kepada penulis, maka penulis akan miskin dan yang kaya adalah para pembajak buku-buku,” ungkap Sabar Sitanggang salah satu pemantik dalam diskusi mingguan Kalam dan Pembacanya yang diadakan Kang Yusuf Maulana dan Poestaka Rembug.

Saya termasuk mengamini hal ini. Perihal pembajakan ini juga udah saya singgung di pertemuan minggu lalu. Yang paling parah, ada buku yang tidak dijual secara offline tetapi bertebaran di marketplace. Meski seorang kawan yang mengerti hukum pernah mengusulkan agar diproses secara hukum. Saya cuma mengangguk dan pada akhirnya mengikhlaskan perilaku amoral para pembajak-pembajak buku tersebut.

Tidak hanya pembajakan, penulis juga menghadapi para ‘mualaf’ pembaca buku yang senang membagikan buku-buku soft copy dalam bentuk pdf kepada komunitas dan grupnya. Dan mereka tidak merasa bersalah melakukan ini.

Sabar Sitanggang bahkan menceritakan kalau buku-bukunya diperbolehkan untuk diperbanyak (diperjelas dalam buku-buku yang ia tulis). Ia menyakini rezeki dari Allah bisa dari mana saja, meski bukunya dibajak dan diperbanyak orang. Mungkin ini juga ungkapan frustasi karena regulasi Pemerintah yang tidak mendukung.

Dimusuhi Karena Menulis Buku

Mas Aldy Istanzia Wiguna seorang aktifis muda PERSIS mengatakan, bahwa dirinya dikritik dan dimusuhi karena menulis sebuah buku. Beberapa judul ia sebut, salah satunya “Seteru Umat” yang bercerita tentang beberapa friksi yang ada di ormas Islam PERSIS.

Soal ini saya juga pernah mengalami, ketika saya dan mas Dwi Suwiknyo menulis buku berjudul “Awas Riba Terselubung; Praktik Tidak Syar’i Bank Syariah.” Buku ini dihakimi menjadi bentuk demarketisasi bank-bank syariah yang sedang marak pada saat ini. Meski isi buku ini sebenarnya masukan yang berharga buat praktik perbankan syariah. Sayangnya sudah ditanggapi negatif terlebih dahulu.

Buku-buku mas Yusuf Maulana juga termasuk yang banyak dihakimi oleh orang yang bahkan membaca bukunya saja belum. Tapi kadang-kadang begitulah komentator, seolah lebih paham dari pemain bola yang sedang bermain di lapangan. Saya menyebutnya, penghakiman karya intelektual.

Edo Segara

Penulis Buku di Jogja

BAGIKAN SEKARANG :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
!