PANDEMI MENABUR SUNYI

Oleh: Gus Nas

Jika sejarah hanya setumpuk sunyi yang kian renta
Maka pandemi telah menuliskan ribuan puisi dari jiwa yang kehabisan kata

Dalam kesunyian yang panjang ini marilah kita mengheningkan cipta
Untuk apa manusia terlahir di alam semesta?
Akan kemana sesudah ajal menghentikan segalanya?

Ketika manusia mulai lalai bin khilaf bin lupa atas segala karunia
Ketika manusia makin menepuk dada dan melukai alam raya dengan kesombongannya
Maka corona hadir menjadi mahkota

Pandemi datang untuk menyembuhkan bumi
Dan menghentikan manusia yang telah melampaui batasnya
Itulah makna bahwa Tuhan tak pernah jumawa

Kenapa manusia harus menyalahkan pandemi?
Kenapa bukan mengalahkan kepanikan diri?

Bukankah pandemi sudah lama hadir melucuti kekerdilan manusia itu sendiri?

Saat manusia menelantarkan kemanusiaanya
Serakah dan melalaikan amanah
Maka corona dan pandemi mengucap titah

Saat manusia selingkuh pada bumi tiada henti
Maka corona dan pandemi menagih janji

Pandemi adalah cara alam semesta merayakan pesta pada manusia yang terus-menerus alpa

Saat mata dan telinga manusia telah terbenam dalam comberan angka-angka
Ketika materi mengalahkan energi sepanjang hari
Corona dan pandemi menawarkan solusi

Pandemi adalah cara semesta melanjutkan sisa-sisa nafasnya
Saat kemaruk manusia hanya menyisakan asap dan jelaga dimana-mana

Maka catatlah wahai aku sang manusia!
Hari esok adalah keseimbangan bagi bumi dan manusia

Pohon-pohon yang tak pernah berhenti bertasbih
Dan mensedekahkan oksigen dengan jernih tanpa dipungut biaya
Akan tumbuh menjadi penyembuh di alam raya

Simaklah dengan seksama tausiyah cinta alam semesta
Kematian tak akan melampaui takdirnya

Tapi manusia yang telah dilalaikan oleh nafsunya
Manusia yang kehilangan rasa syukur atas segala nikmat Tuhan yang Esa
Akan menuding pandemi sebagai biang kematian dan bencana

Marilah sejenak kita mengheningkan cipta
Sebab hanya hidup sehat yang Tuhan pinta
Makan dan minum secukupnya tanpa mengabaikan perut lapar tetangga

Gus Nas

Kyai dan Budayawan

BAGIKAN SEKARANG :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
!