Nasib Pegiat Usaha di Tengah Pandemi

Oleh: Edo Segara

Di musim pandemi Covid-19 seperti ini pasti banyak cash flow pengusaha yang terganggu. Ini masa-masa yang sulit bagi pengusaha. Usaha mereka dipaksa berhenti, tapi gaji karyawan dan operasional tetap harus mereka bayarkan. Beberapa sektor usaha seperti UMKM, pariwisata, transportasi, hotel, dll. banyak yang terdampak. Bahkan beberapa perusahaan banyak yang terpaksa merumahkan pegawainya sejak bulan Maret 2020.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Hariyadi Sukamdani mengatakan, cash flow mereka hanya tahan 3 bulan. Artinya jika musim pandemi dimulai dari Maret, mereka hanya bisa bertahan sampai bulan Juni 2020. Bahkan ada yang kuat hanya satu bulan saja.

Perbankan/Lembaga Keuangan Syariah dan Covid-19

Sebenarnya perbankan syariah terkena dampaknya juga. Saya baca di beberapa media belum lama ini, BMT dan BPR Syariah juga terkena dampak pandemi Covid-19. Selain nasabah banyak yang gagal bayar, perbankan dan lembaga keuangan juga kesulitan bertemu dengan nasabah karena aturan social/physical distancing.

Kenaikan NPF/NPL (kredit macet) jelas di depan mata, karena sejumlah sektor mengalami dampak cukup besar dengan adanya pandemi ini. Soal NPF sebenarnya perbankan bisa melakukan restrukturisasi pembiayaan nasabahnya. OJK mengeluarkan POJK No.11/POJK.03/2020 yang mengatur restrukturisasi kredit, aturan itu ditujukan bagi perbankan dan leasing. BMT? Harusnya bisa lebih luwes aturannya.

Sejumlah kebijakan relaksasi juga sudah dilakukan dari Pemerintah, namun perbankan sepertinya harus menambah modal mereka untuk bertahan. Melihat kurva Covid-19 di berbagai negara, khususnya Indonesia, kita berharap Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) bisa selesai pada akhir Mei, sehingga aktivitas ekonomi bisa kembali berjalan normal.

Bagaimana dengan Nasabah Terdampak?

Sewaktu di masa saya masih aktif di perbankan syariah, saya pernah mengusulkan ada divisi UMKM Center. Jadi divisi ini mengawasi, memantau, dan membina nasabah UMKM agar bisnisnya bisa berjalan bahkan berkembang. Nah, sepertinya di perbankan umum sudah ada, tapi saya kurang begitu paham implementasinya bagaimana.

Nah, kalau divisi ini bisa berjalan saya kira ini bagus sekali. Karena yang saya lihat, selama ini perbankan atau lembaga keuangan hanya datang saat jadwal jatuh tempo nasabah tiba. Mereka tidak pernah mau tahu, apakah bisnisnya masih berjalan dengan baik atau tidak.

Sebagaimana jargonnya yang mengusung syariah, mestinya untung atau rugi bisa ditanggung secara bersama. Jangan sampai saat untung atau rugi perbankan tidak peduli sama sekali. Sekali lagi, pastikan nasabah tidak hanya bisa bayar tapi bisnis mereka juga tetap berjalan. Terutama di masa pandemi seperti ini.

Edo Segara
Penulis Buku “Kebangkitan Ekonomi Syariah”

BAGIKAN SEKARANG :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
!