Manusia dan Alam, Sebuah Renungan

Oleh: Hendra Sugiantoro

Keindahan flora fauna mungkin hanya terdapat dalam novel Ahmad Thohari. Kita mungkin merasakan ada sesuatu yang hilang. Apakah kita semalam melihat kunang-kunang? Apakah kita menyaksikan kupu-kupu siang ini?

Itu hanya segelintir binatang dari melimpahnya binatang di alam nan luas. Barangkali tumbuhan yang selalu kita ingat hanya padi, sebab nasi yang dihasilkannya dimakan setiap hari. Kita tak perlu resah dengan hutan-hutan yang terbabati. Di rumah kita, adakah sedikit saja petak tanah untuk tumbuhan bermekar?

            Betapa luasnya alam semesta ini. Ada rahasia penciptaan yang telah terungkap, ada yang masih rahasia. Ada jenis binatang dan tumbuhan yang telah kita ketahui, ada yang belum terdeteksi. Namun, apapun yang diciptakan Tuhan saling memberikan manfaat. Contoh kecil saja adalah serangga. Ada peran serangga untuk penyerbukan tumbuhan. Tanpa tumbuhan, manusia tak beroleh makanan. Saling keterhubungan ini mungkin kurang tersadari. Bagaimana jika ekosistem dan habitat serangga terganggu?

Binatang dan tumbuhan memiliki ekosistem. Habitatnya perlu diberi ruang. Ketika habitat dan ekosistemnya terusik, binatang dan tumbuhan bisa tertekan. Ada binatang yang bisa bermigrasi berpuluh-puluh kilometer, namun ada yang tak mampu berpindah terlalu jauh demi menemukan habitat dan ekosistem yang nyaman. Seperti manusia, binatang pun bisa stres apabila kehidupannya terganggu.

Dari hewan maupun tumbuhan, ada ratusan jenis virus di dunia ini. Beberapa menyerang manusia. Virus lebih sering menyebar dari hewan ke manusia. Yang termutakhir, penularan bisa dari manusia ke manusia. Laurie Garrett, pemenang The Pulitzer Price untuk liputannya terhadap virus Ebola di Afrika pada 1992, memprediksi akan kian banyak jumlah virus pada tahun 2000-an. Menurutnya, kita tak perlu terkejut dengan munculnya berbagai penyakit baru. Salah satu alasannya adalah merosotnya kualitas lingkungan hidup dan gangguan keseimbangan ekologi.

Dalam ranah akademik, ada istilah antroposentrisme. Manusia beretika antroposentris lebih mementingkan nafsu atas alam. Demi ambisi dan ketamakan, manusia abai tindakannya merusak alam dan lingkungan hidup. Kita akan memahaminya lebih sederhana. Apakah ketika kita menjalani kehidupan ini masih ingat ada binatang dan tumbuhan yang juga berhak hidup?

Penciptaan manusia sebagai khalifah fil ardh harus menyadarkan kita bahwa alam ini bukan diciptakan untuk manusia semata. Masih ada makhluk lain yang diciptakan Tuhan. Manusia ditugasi mengelola alam. Hal ini juga berarti melindungi habitat binatang dan tumbuhan. Mengelola alam juga berarti menjaga ekosistem.

Banyak yang harus kita lakukan untuk hidup berdampingan dengan binatang dan tumbuhan. Panas kemarau yang kerap menyengat dan curah hujan tak teratur hanya kita rasakan sepintas lalu. Namun, disadari atau tidak, perubahan iklim mengganggu gerak hidup binatang dan tumbuhan. Perubahan iklim ternyata ulah manusia.

Mulailah dari kesadaran diri berperilaku memberikan keteladanan. Ada dua hal yang layak ditekankan mengingat tak terlepas dari keseharian kita: plastik dan makanan. Plastik yang terbuang terpendam dalam tanah atau mengalir mengikuti arus sungai. Sampah plastik sukar terurai. Air tanah di Indonesia ternyata telah terkontaminasi plastik. Itu tentu berdampak pada tumbuhan.

Jika terurai, sampah plastik hanya menyerpih menjadi mikroplastik. Bagaimana jika terkonsumsi manusia? Akibat limbah plastik, ekosistem ikan terganggu. Setiap tahun, sekitar satu juta burung laut dan ratusan ribu binatang laut lainnya mati. Pada 2050 diperkirakan lebih banyak plastik daripada ikan di laut. Limbah plastik juga penyebab perubahan iklim. Dari fakta tesebut, kita bisa bayangkan.

Fakta yang juga menggetirkan adalah sampah makanan. Berdasarkan laporan Food Sustainability Index dari The Economist Intelligence Unit (EIU) pada 2017, Indonesia adalah negara pembuang makanan terbesar nomor dua di dunia. Apakah kita prihatin—menurut data tersebut—rata-rata satu orang Indonesia bisa membuang sampai 300 kilogram makanan setiap tahunnya? Sampah makanan termasuk tujuh faktor penyebab pemanasan global—yang tentu mengganggu ekosistem binatang dan tumbuhan.

Sesungguhnya, hidup berdampingan dengan binatang dan tumbuhan di alam nan luas ini adalah pilihan lebih bijak. Inilah esensi sejati. Belum beningkah hati kita memetik pelajaran dari Covid-19 saat ini?     

Hendra Sugiantoro

Penulis tinggal di bumi Indonesia

BAGIKAN SEKARANG :

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!
!