Kisah Santri dan Pembangunan Gedung Santriwati BM3

            Pengelola Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu (PM3) optimis menyelesaikan infrastruktur gedung pondok asrama putri. Hal ini dilakukan untuk memaksimalkan proses pendidikan dan ruang kreativitas santriwati. Pada kompleks pondok putri Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu (PM3) yang terletak di dusun Wonolelo, Magelang, Jawa Tengah. Terdapat gedung asrama putri dan rumah assatidzah sebagai tenaga pengajar. Serta terdapat juga fasilitas publik berupa masjid Siti Maryam dan Islamic Center.

            Untuk fasilitas asrama putri sendiri terdapat kamar tidur santri, aula tengah, dapur dan MCK dengan luas bangunan kurang lebih mencapai 300 m persegi. Asrama putri ini akan dihuni 50 santriwati. Gedung yang akan segera difungsikan ini harapannya dapat menjadi inkubator daiyah dan wanita solihah untuk dapat melebur ke dalam masyarakat serta menebarkan kebaikan dan kebermanfaatan dakwah.

Lutfi selaku pengurus BM3, menyampaikan “semoga santriwati dapat lebih nyaman dan semangat untuk berkhidmat belajar dan berdakwah,” ujar.

            Respon dari santriwati juga sangat baik, mereka begitu antusias dan semakin semangat dengan gedung baru yang akan mereka huni dalam waktu dekat ini. Niken salah seorang santriwati calon penghuni gedung asrama baru ini mengatakan “Alhamdulillah, karena kami akan segera mempunyai gedung asrama putri sendiri. Semoga kita lebih semangat dalam belajar dan berdakwah untuk masyarakat sekitar,” terangnya.

            Tantangan belajar juga dialami santri putra. Shlihin namanya. Seusai lulus sekolah dasar, bocah yang berumur 12 tahun itu berangkat dari kampung halamannya Baubau, Sulawesi Tenggara ke Jogja. Tahun pertamanya menjadi santri bukanlah hal yang mudah. Proses adaptasi yang ia alami begitu panjang. Sering diusilin hingga merasa tidak betah di pondok pesantren. “Awal saya masuk di sini tuh ga enak mas, sering diisengin temen-temen sampai pernah mau kabur dari pondok tapi bingung mau kemana” curhat Solihin.

            Solihin terbilang santri yang aktif dan cekatan. Lebih dapat diandalkan dibanding santri lain, mungkin karena mentalitasnya yang sudah tertempa. Di balik badannya yang kecil, tersimpan tekad yang besar dalam hatinya. Ia berani memangkas masa kanak-kanaknya yang biasa digunakan bermain dan berkumpul dengan keluarga demi meraih cita-cita. “Saya anak pertama, harus jadi contoh buat adik-adik saya. Kelima adik-adik harus saya bantu dalam mengejar cita-cita seperti seperti bapak membantu saya sampai ke tempat ini. Saya juga ingin jadi Ustadz di kampung halaman saya, saya mau ilmu yang saya dapatkan di PM3 bisa saya bagikan untuk orang-orang di sana” tutur Solihin penuh harap.

Solihin tidak memiliki kesempatan pulang kampung setiap saat layaknya teman-temannya. Sebab jika menggunakan kapal, perjalanan menuju kampung halamannya memakan waktu 4 hari. Sehingga dalam setahun ia hanya dapat melepas rindu pada libur lebaran saja, serta memohon keringanan pengurus pondok untuk diberi izin terlambat beberapa hari untuk masuk asrama. Kita doakan agar Solihin, Niken, dan santri lain bisa menggapai cita-cita ya.

            Pembangunan gedung masih terus berlanjut, peluang untuk terlibat dalam agenda kebaikan ini masih terbuka lebar. Menyemai amal jariyah yang terus mengalir. Bagi pembaca bisa menitipkan donasinya melalui yayasan amil zakat Baitul Maal Merapi Merbabu. Dapat mengirimkan langsung ke no rek. BSI 77777 55 702 A.N Baitul Maal Merapi Merbabu atau dapat menghubungi sosial media terkait.

Editor: Putra

BAGIKAN SEKARANG :

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!
!