Kesejahteraan Guru, Bukan Soal PNS

Oleh : Hendra Sugiantoro

Barangkali Rahmah El-Yunusiyyah (1900-1969) tak habis pikir. Teriakan puluhan tahun silam belum jua benderang. Pemerintah tak pernah paham! ” Dengan wajah sayu, Rahmah berkata, “Dalam hal ini saya adalah memikirkan bagaimana keadaan guru-guru di masa yang sudah…”

Rahmah gundah saat itu, apalagi kondisi serba sulit. Tak perlu menengok daerah pelosok, cukuplah di kota kita. Bukankah masih ada guru TK mengajar setiap hari hanya digaji 100.000 rupiah per bulan? Ada guru yang hampir pensiun masih menerima tiga lembar kertas bergambar Sukarno-Hatta?

Rahmah puluhan tahun lampau mendesah. Napasnya dilepaskan keluar, “…perlu benar nasib guru-guru itu diperhatikan oleh pemerintah. Yang terutama sekali tentang penghidupannya haruslah dicukupkan.”

Pemerintah tak pernah paham! Dalam Recommendation Concerning The Status of Teachers yang dirumuskan UNESCO dan ILO pada 5 Oktober 1966 tak ada perbedaan gaji guru antara PNS dan non-PNS. Apa pun statusnya, guru memperoleh penggajian yang sama secara proporsional.

Lebih memuakkan lagi adalah partai politik. Tanpa pernah malu berjargon “rakyat”, padahal rekam jejaknya penuh korupsi. Nasib! Tak ada rekam jejak partai politik menggoalkan rekomendasi UNESCO dan ILO!

Jika napas Rahmah belum habis, mungkin akan sekali lagi berteriak, “Kalau nasib guru-guru tidak mendapat perbaikan, mungkin hal ini membawa akibat yang kurang baik bagi jalannya pendidikan, yang berarti kerugian bagi umumnya rakyat.”

Kalau sekadar bilang “rakyat”, Rahmah El-Yunusiyyah tak kalah dengan Presiden, Ketua DPR, dan partai politik. Yang memiliki kekuasaan, bukankah harus membuktikan dengan perbuatan? Wallahu a’lam.

Hendra Sugiantoro

Penulis Buku ‘Rahmah El Yunusiyah dalam Arus Sejarah Indonesia’

BAGIKAN SEKARANG :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
!