Kelezatan dalam Ketaatan

Oleh: Ustad Ahmad Rusdi

Ju’ilat qurrotu ‘ainiy fish sholati
Begitu sabda nabi satu ketika
Dijadikan sholatku senang di hati
Begitulah nabi di hadapan Tuhannya

Dalam ibadah hati terasa nyaman
Ibadah terasa ringan bukan berat
Itulah hamba yang dapat kelezatan
Nilai berharga tak semua orang dapat

Lezat saat ibadah adalah nikmat
Tidak semua orang bisa merasakan
Perlu usaha, doa dan semangat
Intinya kesabaran dan keikhlasan

Sabar dalam menjalankan ketaatan
Dan niat Ikhlas selalu mengiringi
Kelezatan ibadah kan dimudahkan
Sehingga kita bisa menikmati

Mereka yang gemar beribadah
Ciri adanya kelezatan didirinya
Itulah kandungan hikam athoillah
Pada fasal ke delapan puluh dua

Fasal yang mengajarkan pada kita
Kafa min Jazaih iyyaka ‘alath tho’ah
Cukuplah taatmu menjadi karunia
Saat Allah ridho engkau ahli ibadah

Penjelasan

Pada umumnya dalam beribadah kepada Allah, kita kadang—bisa jadi sering juga..he he— merasa bosan dan enggan. Kadang dipikiran kita terlintas : “ kok sudah masuk waktu sholat lagi atau perasaaan baru kemarin puasa Ramadhan kok sudah Ramadhan lagi”. Padahal bila kita ingin mendapatkan adanya kemanisan atau kelezatan dalam beribadah itu perlu adanya kesabaran yang kemudian rasa sabar ini mendatangkan rasa rela untuk beribadah. Rasa rela dalam beribadah ini bila terus menerus dipelihara dan dijaga in syaa Allah juga akan mendatangkan taufik sehingga kita ringan melakukan ibadah dan amal-amal kebaikan lainnya. Bila ada orang malas dan engggan beribadah, itu berarti tidak ada taufik pada dirinya. Dia tahu sholat lima waktu itu wajib atasnya, begitu pula ibadah puasa Ramadhan. Tapi karena tidak ada taufik akhirnya dia merasa berat melakukannya.

Dan ketika Allah telah memberikan taufik berarti Allah telah meridhai kita selaku hamba-Nya yang sudah mulai gemar dalam beribadah kepada-Nya. Bila sudah sampai tahapan gemar beribadah maka in syaa Alah disitulah kita akan memasuki gerbang kelezatan atau kemanisan dalam beribadah. Mereka yang sudah berada dalam kondisi seperti ini , maka akan timbul rasa nyaman, senang bahkan ada kerinduan dalam beribadah. Bila sudah ada kerinduan dalam beribadah, itulah yang dikatakan oleh imam al-Ghazali dalam kitabnya Minhaj al-‘Arifin di bab kedua (bab al-Ahkam) sebagai tanda hati yang Rof’ul Qolbi (Hati yang terangkat/naik). Subhanallah..

Dengan taufik tersebut keimanan kita akan semakin kuat yang kemudian teraktualisasikan dalam ketaatan kita kepada-Nya sehingga akhirnya kita benar-benar dipandang layak oleh Allah sebagai hamba-hamba-Nya yang patut melakukan ketaatan dan ibadah. Dan itulah anugerah Allah yang tak ternilai sebagaimana diakatan oleh Syaikh Ibnu Athaillah al-Sakandari dalam al-Hikam nya:

كَفَى مِنْ جَزَائِهِ اِيّاكَ عَلَى الطّاعَةِ اَنَ رَضِيَكَ لَهَا اَهْلًا

“Cukuplah bagi kamu pembalasan amal dari Allah SWT, bahwa Allah menempatkan ketaatan kepadamu dan keadaan DIA meridhai kamu menjadi ahli dalam ketaatan kepada-Nya.”

كَفَى العاَمِلِيْنَ جَزَاءً ماَهُوَ فاَتِحُهُ عَلىَ قُلُوْبِهِمْ فىِ طاَعَتِهِ وَماَهُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْهِمْ مِنْ وُجُوْدِ مُؤَانَسَتِهِ

“Cukup bagi orang-orang yang beramal, Allah membalas kepadanya berupa hal-hal yang dibukakan Allah atas hati mereka sehingga dapat mendirikan taat ibadah dan segala hal yang diberikan Allah Swt kepadanya berupa gemar mendirikan taat ibadah”.

Akhir kata, sesungguhnya karunia Allah yang berupa rasa senang melakukan ibadah sesungguhnya sudah cukup menjadi balasan bagi kita atas amal ibadah yang kita lakukan sehingga kita termotivasi dan terbimbing untuk bisa menjaga dan meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita tersebut.
Wallahu a’lam. Semoga Bermanfaat.


Ustad Ahmad Rusdi
Pendidik di Jakarta

BAGIKAN SEKARANG :

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!
!