Keadilan Hakim dan Kearifan Ali

wikipedia

Oleh: Adinul Muslim

Indonesia adalah negara hukum, namun penegakan hukum di Indonesia masih tebang pilih. Tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Sebagai contoh, seorang nenek di Banyumas yang mengambil 3 buah kakao seharga 2000,- rupiah per biji di hokum 1 bulan penjara. Meskipun sudah mengembalikan, namun perusahaan PT Rumpun Sari Antan tetap melanjutkan tuntutannya agar jadi pelajaran masyarakat. Adapula kakek tua yang menebang pohon Mangrove untuk keperluan memasak, harus berhadapan dengan hukum setelah dilaporkan ke polisi di Probolinggo dan dihukum 2 tahun penjara. Di termin lain para koruptor bebas keluar masuk bui dan ketawa haha hihi.

Maka kearifan hakim menjadi kunci agar menjatuhkan hukuman berdasarkan aturan dan hati nurani. Hakim (qadhi) harus adil, menjatuhkan vonis pada siapa saja yang berperkara. Sebab Nabi bersabda, “Allah beserta seorang hakim selama dia tidak mezalimi. Bila dia berbuat zalim maka Allah akan menjatuhi hukum padanya dan setan selalu mendampinginya.” (HR. Tirmidzi).

Karena itu hakim haruslah netral dan terlepas dari intervensi pihak mana pun. Segala keputusan hukumnya mutlak harus berpijak berdasarkan pada kebenaran melalui bukti-bukti dan saksi-saksi. Ia tidak boleh memutuskan hukum secara sewenang-wenang, misalnya, dengan memenangkan salah satu pihak yang berperkara karena pihak tersebut adalah seorang penguasa, sementara pihak yang kalah adalah rakyat biasa.

Tersebut dalam kitab Shuwar min Hayah at-Tabi’in karya Abdurrahman Rifa’at Basya. Dikisahkan khalifah Ali bin Abi Thalib kehilangan pakaian perang kesayangannya. Lalu, dia mendapatinya berada di tangan seorang dzimi (kafir yang dilindungi di negeri islam). Spontan Ali berkata, “Ini adalah milikku yang jatuh dari untaku pada suatu malam di sebuah tempat.” Namun, pihak tertuduh mengelak, “Ini adalah barangku dan berada di tanganku, wahai Khalifah!” Ali balik menyahut, “Ini milikku, aku tidak pernah merasa menjualnya atau memberikannya hingga sampai berada di tanganmu.” Kemudian Ali mengajar pemuda dzimi tersebut menghadap hakim. Mereka pun pergi menemui hakim Suryah bin al-Harits.

Pada persidangan, bertanyalah hakim, “apa tuduhan Anda, wahai Khalifah?” Ali menjawab, “Kudapati barangku berada di tangan orang ini. Barang itu jatuh dari untaku pada suatu malam di sebuah tempat, lalu sampai di tangan orang ini, padahal aku tidak menjual padanya, tidak pula kuberikan sebagai hadiah.” Syuraih berkata kepada si dzimi, “Apa tanggapan anda?” Ia menjawab, “barang ini milikku, dia ada di tanganku. Namun, aku tidak menuduh khalifah berdusta.” Syuraih berkata kepada Ali, “aku tidak meragukan kejujuran anda wahai khalifah, tapi adakah dua orang saksi yang membuktikan kebenaran tuduhan anda.” Ali berkata, “baik, aku punya dua orang saksi, yaitu pembantuku Qanbar dan putarku Hasan.” Syuraih menimpali, “kesaksian anak bagi ayahnya tidak berlaku.” Terjadilah perdebatan, “Subhanallah, seorang ahli surga ditolak kesaksiannya? apakah anda tidak pernah mendengar sabda Rasulullah bahwa Hasan dan Husein adalah pemuka para penduduk surga?” Syuraih menjawab, “Aku tahu itu, wahai Khalifah, hanya saja kesaksian anak untuk ayahnya tidak berlaku.” Mendengar jawaban itu, Ali menoleh kepada si dzimi sembari berujar, “ambillah barang itu, sebab aku tidak punya saksi lagi selain keduanya.”

Detik kemudian si dzimi pun mengakui, “aku bersaksi bahwa barang itu adalah milik anda, wahai khalifah. Ia pun merasa takjub. Ya Allah, khalifah menghadapkanku kepada seorang hakimnya, dan hakimnya memenangkan aku. Aku bersaksi bahwa agama yang mengajarkan seperti ini adalah agama yang benar dan suci. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah. Wahai hakim, ketahuilah bahwa barang ini adalah milik khalifah. Waktu itu aku mengikuti pasukannya saat menuju ke Shifin. Lalu aku lihat pakaian ini jatuh dari untanya, dan aku mengambilnya.” Mendengarnya Ali pun salut pada kejujuran non muslim tersebut. “Karena kini anda telah menjadi muslim, maka aku hadiahkan pakaian ini untukmu, dan juga kuda ini untukmu.”

Demikian keadilan hakim Syuraih. Ia tidak memenangkan Ali meski ia adalah Khalifah. Syuraih hanya memutuskan hukum berdasarkan bukti dan saksi, yang itu tidak bisa di hadirkan oleh Ali. Namun, pada akhirnya kebenaran pun terkuak melalui pengakuan si dzimi itu sendiri yang melihat kearifan dan keadilan hakim Syuraih. Masyaallah, semoga penegak hukum di negeri ini dapat mengambil pelajaran dari cerita ini.

Adinul Muslim

Aktivis Dakwah Dompu, Nusa Tenggara Barat

BAGIKAN SEKARANG :

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!
!