Karakter sebagai Tujuan Pendidikan

Property of magelangpost.com

oleh: Catur Ilham Pamungkas

Judul : Kehebatan Islam dalam Pendidikan
Penulis : Ridza Gandara
Penerbit : Edutama Publishing, 2014
Tebal : 355 halaman
Harga : 90.000 (cover Lux).

Pendidikan adalah proses pembentukan manusia. Sejatinya pendidikan yang memanusiakan manusia lebih bermakna antroposentris (berpusat pada manusia). Untuk membentuk karakter, maka pendidikan harus berangkat dari theosentris (berpusat pada keTuhanan) agar pendidikan tidak kehilangan unsur pokok dalam individu yaitu dimensi kerohanian dan spiritual. Sebab, manusia saat lahir di dunia telah dibekali fitrah.

Menurut Imam Al Ghazali fitrah adalah sifat mendasar yang melekat dalam diri manusia. Seperti naluri berketuhanan (tauhid), dapat membedakan antara yang baik dan buruk, memiliki nafsu, dan tidak dapat hidup sendiri. Argumen ini dapat dijadikan bantahan teori psikologi beheviorisme dan teori tabularasa yang menyimpulkan pada dasarnya setiap bayi yang lahir ibarat kertas putih, terserah orang tuanya hendak ditulis dengan tinta warna apa. Hal ini tidak benar, karena manusia ketika muncul di dunia sudah memiliki fondasi fitrah yang ada pada setiap insan.

Berbincang masalah pendidikan tak akan terpisah dari sosok manusia sebagai bahan mentahnya. Hendak dicipta seperti apa makhluk bernama manusia tersebut, tergantung lingkungan pendidikan yang akan mengolahnya. Lantas karakter seperti apa yang hendak dibentuk? Teori Ibnu Qayyim tentang pembentukan karakter bermula dari mind-idea-memory-believe-motivation-action-habit-character. Semua berawal dari fikiran sebagai sumber ide karena manusia adalah makhluk mulia yang memiliki akal, kemudian jika insan tersebut memanfaatkannya untuk menemukan ide maka gagasan itu akan disimpan dalam memori tempurung kepala sehingga berdampak pada rasa percaya diri. Rasa percaya diri memunculkan motivasi untuk bertindak. Tindakan yang berulang-ulang dilakukan itulah disebut karakter.

Sehingga dapat dikata karakter itu adalah akhlak. Sebab, menurut imam Al Ghazali, akhlak bersifat konstan, tidak temporer, tidak ada pertimbangan, dan tekanan dari luar. Oleh karena itu, dalam Islam akhlak bersifat pokok setelah aqidah dan ibadah, dan kita bisa memahami Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak.

Proses membentuk akhlak ini, diperlukan keteladanan orang-orang sekitar. Bagaimana Islam mengajarkan-nya, para pembaca bisa menemukannya di pustaka ini. Buku ini mengulas arti pendidikan sejak zaman Rasulullah, hingga bagaimana menapaki jalan pendidikan Islam di era kini. Sangat cocok bagi pembaca yang menekuni dunia pendidikan dan literasi. Selamat membaca.

Catur Ilham Pamungkas
Mahasiswa PGSD UAD

BAGIKAN SEKARANG :

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!
!