Histori (Kedai) Kopi

Oleh: Vivit Nur Arista Putra

Cemal Kafadar dalam History of Coffee mencatat kedai kopi tertua berdiri di Konstatinopel pada 1554 M. Dahulu, pemuda Turki rutin mengunjunginya hingga lalai pergi ke masjid. Kenakalan ini mengundang murka ulama sufi hingga mengancam akan membakar kedai kopi. Karena tiada bedanya dengan kedai penjual tuak milik Romawi. Padahal penamaan kopi berasal dari bahasa arab Qahwah (kekuatan). Tanaman asal Ethiopia ini disebut demikian karena ditenggak untuk menambah energi. Orang Belanda menamainya koffie saat membawanya ke nusantara agar dikembangbiak-kan dalam program tanam paksa, lalu pribumi menyebutnya kopi.

Sesiapa menenggak kopi matanya akan terjaga, maka para ulama mengonsumsi kopi agar tubuhnya kuat beribadah di malam hari. Insan cendekia menggempur tiga gelas kopi agar lama mendaras kitab hingga larut malam. Konon, kopi sempat menyisihkan bir dan menjadi minuman favorit para intelektual penggerak renaissans di Eropa. Inilah sejatinya filosofi kopi. Generasi milineal kini perlu menghidupkan kembali khitah kopi sebagai minuman sahabat ahli ilmu dan pecandu buku. Jangan hanya buang waktu di kedai kopi dengan aktivitas tak bermutu, membual berjam-jam tanpa malu, dan main kartu. Kedai kopi harus menjadi arena inkubasi ide dan awal penggerak perubahan di masyarakat.

Sejatinya kedai kopi adalah tempat ideal untuk merenung, menemu inspirasi, dan memacu kreatifitas, urai Eric Weiner dalam The Geography of Genius. Ia ialah sebuah “tempat ketiga” wahana bersantai sekaligus sebagai “dunia sementara dalam dunia sehari-hari.” Secara psikis saat kita ingin berkontemplasi, terbesit tempat sunyi sebagai lokasi ideal untuk disinggahi. Namun, tim peneliti Universitas Illinois menyimpulkan sebaliknya. Manusia yang terpapar tingkat bunyi sedang (70 desibel), menunjukkan berfikir kreatif lebih baik ketimbang seseorang yang terkena tingkat bunyi lebih tinggi atau sepi tanpa suara sama sekali. Obrolan dua orang atau lebih dan riuh di kedai kopi biasanya berada pada tingkat bunyi sedang, sehingga otak manusia merasa nyaman saat diajak berbincang. So, yuk cari kedai kopi sambil berbagi…

Vivit Nur Arista Putra
Pemimpin Redaksi magelangpost.com

BAGIKAN SEKARANG :

One thought on “Histori (Kedai) Kopi

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!
!