Hati-Hati Dengan Ketenaran

magelangpost.com

Oleh: Ustad Ahmad Rusdi

Idfin Wujudaka fi ardil khumuli
Pesan matan alhikam kesembilan
Benamkan keakuanmu ke bumi
In syaa Allah kebaikan kau dapatkan

Fama nabata mimma lam yudfan
Yang tumbuh dari benih tak tertanam
La yatimmu nataijuh di akhir matan
Tak akan sempurna hasil tanam

Keakuan diri bisa melenakan
Hikam Athoillah menasihati
Hati-hati dengan ketenaran
Tak sedikit yang jatuh karena ini

Ketenaran melahirkan kesombongan
Bila sikap kita tidak hati hati
Tazkiyatunnafsi perlu digalakkan
Untuk mengobati penyakit hati

Syaikh Athoilllah memberi ilustrasi
Saat keakuan diri dibenamkan
Seperti biji yang ditanam kebumi
Buah yang baik kan kita dapatkan

Saat keakuan diri dibenamkan
Disertai zikir kepada ilahi
In syaa Allah akan menghasilkan
Pribadi yang baik dan rendah hati

اِدْفِنْ وُجُودَكَ فيِ أَرْضِ الْخُمُولِ، فَمَا نَـبَتَ مِمَّالَمْ يُدْفَنْ لاَ يَــتِمُّ نَـتَاءِجُهُ
“Kuburlah wujudmu (keakuan dirimu/eksistensimu) di dalam bumi kerendahan (yang tersembunyi); karena sesuatu yang tumbuh namun tidak ditanam (dengan baik) tidak akan sempurna buahnya (hasilnya)”

Al-khumul” secara bahasa berarti tidak dikenal, lemah, tidak jelas,. Yang dimaksud dari matan hikam di atas adalah bermakna “kerendahan” atau “ketiadaan”. Sementara kita tahu ada kecenderungan pada diri kita agar wujud, eksistensi atau keakuan diri kita sebagai manusia pada umumnya ingin diakui, dikenal, mahsyur, dan dipandang hebat yang apabila tidak disikapi dengan hati-hati bisa berujung pada riya dan kesombongan. Agar tidak terjebak dalam hal-hal tersebut maka kita perlu tazkiyatu al-nafsi dan melatih diri kita agar keakuan diri (eksistensi dan ego) kita tidak terbuai dengan hal-hal yang nantinya mendorong kita kepada kesombongan, riya dan penyakit hati lainnya..

Proses tazkiyatu al-nafsi pada dasarnya adalah proses menumbuhkan jiwa yang suci. Jiwa dalam hal ini diibaratkan bagaikan pohon yang tumbuh. Oleh karenanya jiwa harus ditanam dan dirawat agar dapat tumbuh dan berbuah dengan baik dan sempurna. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ ﴿ ﴾ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ ﴿ ﴾

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimah tayyibah itu seperti pohon yang baik, akarnya teguh, dan cabangnya (menjulang) ke langit; pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. ( Q.S. Ibrahim: 24-25).

Di akhir kata saya kutipkan ungkapan indah dari Syaikh Abu al-Abbas:

قال الشيخ أبو العباس: من احب الظهور فهو عبد الظهور ومن احب الخفاء فهو عبد الخفاء ومن كان عبد الله فسواء عليه أظهره أو أخفاه

Syaikh Abu al-‘Abas berkata; “Barang siapa yang mencintai keterkenalan/popularitas maka dia menjadi hamba/budaknya—keterkenalan—, dan barang siapa yang mencintai ketidakketerkenalan maka dia juga menjadi hamba/budak—ketidakketerkenalan tersebut—,, dan barang siapa yang menjadi hamba Allah SWT, bagi dia sama saja, baik terkenal maupun tidak,(tidak ada bedanya).” ( al-Syaikh Ahmad ibn al-Sayyid Zaini Dahlan, Taqrib al-Ushul Li Tashiyl al-Wushul Li Ma’rifatilllah wa al-Rasul, Kitab Nashyirun, Beirut, Libanon, tt, hal. 84).

Ustad Ahmad Rusdi

Pendidik di Jakarta

BAGIKAN SEKARANG :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
!