Cara Stunning (Pemingsanan) saat Potong Hewan Kurban

Shofa Mughhtanim saat menyampaikan materinya. Property of magelangpost.com

Arista Putra

Menjelang Idul Adha, Kementerian Agama Kota Magelang mengadakan penyuluhan pemotongan hewan kurban untuk tokoh masyarakat. Acara yang digelar di Hotel Trio, Kamis, 8 Agustus 2019 ini menghadirkan pembicara Shofa Mughhtanim (Auditor LPPOM MUI Jawa Tengah). Penyembelihan adalah pemotongan untuk mengalirkan darah dengan terputusnya saluran makanan, saluran pernafasan, dan dua pembuluh darah. Berdasarkan pemantauanya di beberapa tempat Shofa menjelaskan, “kebanyakan saat pemotongan sapi semua saluran terputus. Mungkin karena tukang jagalnya sudah pengalaman dan sudah memperhatikan hal ini. Tetapi saat kami perhatikan di Rumah Pemotongan Ayam (RPA), seringnya yang terputus hanya saluran pernafasannya. Di sisi lain saluran makanannya tidak terputus karena ada banyak lemak, terutama di ayam broiler” tukasnya.

Peneliti muda ini juga mengungkapkan bolehnya menggunakan cara stunning (membuat hewan pingsan), agar memudahkan dalam memotongnya. Pendapat tersebut dikuatkan oleh Syekh Wahbah Az Zuhaili dalam karyanya Fiqih Islam wa Adilatuhu, dengan syarat tidak menyakiti hewan dan tidak mematikan sebelum penyembelihan. Sehingga pelaksanaannya adalah ihsan, bukan menyiksa hewan. Stunning hanya dilakukan di bagian kepala dan hewan hanya mengalami kejutan sementara. Sapi rata-rata hanya boleh mengalami kejutan
2,6 – 4 detik, kambing 3 – 5 detik, dan ayam 5 – 6 detik.

Dokumentasi LPPOM MUI Jawa Tengah

Shofa juga mengingatkan kepada jagal agar tidak melakukan aktivitas apapun sesuai hewan dipotong sampai benar-benar mati. “Setelah proses pemotongan terhadap hewan kurban selesai, untuk sapi lokal biasanya kita perlu menunggu hingga 7 menit. Untuk sapi impor seperti limosin karena dia kuat, mungkin perlu ditunggu beberapa lama lagi. Kalau belum yakin mati, kita tidak boleh menguliti hewan atau memotong bagian tubuhnya karena hal tersebut haram dan menyiksanya” pesannya.

Dokumentasi LPPOM MUI Jawa Tengah

Secara terpisah BPOM MUI dalam rilisnya ke media menghimbau ke masyarakat agar mengemas daging dengan besek, daun jati, daun pisang, daun kelapa atau wadah stainless dan jangan menggunakan plastik. Alasannya karena plastik dibuat dari daur ulang wadah bekas dan bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan. Untuk pembaca yang ingin mendapatkan informasi tentang hal ini, bisa menghubungi Halo BPOM
1500533 atau WA 08119181533.

BAGIKAN SEKARANG :

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!
!