BALAI PUSTAKA DIRGAHAYU KE 105

Oleh: Gus Nas

Balai Pustaka mempusakai semangatku
Mataku menatap masa lalu
Kalbuku memetik ilham dalam setangkai rindu

Kuziarahi Balai Pustaka dalam tumpukan buku
Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur
Begitulah kaum kolonial menyebutnya kala itu

Bertemu Tirto Adhi Soerja pada zaman kelabu
Nafasku tersengal menghirup sejarah bertabur debu

Tertatih-tatih di zaman letih
Kuseret kaki-kaki aksara pada perih syairku
Kutuntun pantun
Kupetik kelopak seloka dalam mawar nalarku
Dengan membaca kutemukan marwah di relung jiwa

Pada paruh kedua Abad 19
Balai Pustaka adalah rekayasa kolonial Belanda
Untuk menjerat pedas propaganda
Agar Bumiputra terlupa dan terlena
dari cita-cita merdeka

Kaum kolonial menyebutnya: schedelijke invloeden
Yaitu “pengaruh berbahaya” bagi penjajah
Itulah Balai Pustaka masa lalu

Ketika Tjokroaminoto berdiri gagah menatap penjajah
Dan Syarikat Islam menggedor nalar kaum pribumi
Balai Pustaka dihadirkan untuk menjerat geloranya

Satu persatu kaum pergerakan dirayu
Kritik yang tumpah di jalanan
Diwadahi dalam tulisan di buku-buku

Kusebut nama Raden Sutomo
Nama R.M.A. Wurjadiningrat dan Pangeran Surjodiningrat
Juga nama Muhammad Yamin dan Agus Salim
Dalam kenangan masa silam itu

Tapi kolonial keliru
Balai Pustaka menjadi ajang mengasah pena
Menajamkan tekad untuk segera merdeka
Balai Pustaka menjelma Mata Air bagi Peradaban Bangsa

Di zaman penjajahan Jepang
Ia bernama Gunseikanbu Kokumin Tosyokyoku
Atau Biro Pustaka Rakyat
Dengan sejarah kelabu

Balai Pustaka adalah pohon tua
Dengan akar nalar kolonial Belanda
Tapi melahirkan para pemikir pergerakan kaum pribumi
Bergerilya dengan ilmu dan berpikir merdeka

Lalu lahirlah Amir Hamzah
Terbitlah Sutan Takdir Alisyahbana
Bangkit pula Supomo dan Sutomo
Sanusi Pane dan para cerdik cendekia Bumiputra lainnya

Balai Pustaka menjadi oase
Balai Pustaka menjadi nyala api
Bagi para pemikir merdeka
Balai Pustaka menjadi kawah candradimuka
Bagi sastrawan dan penyair Indonesia

Kini zaman sudah tidak seperti dulu
Waktu selalu menantang untuk menjadi pembaharu
Akankah Balai Pustaka hadir untuk menyemai jiwa
Melahirkan para pujangga untuk tanah air tercinta?

Biarlah puisi ini yang kelak menjawabnya

Gus Nas

Jogja, 22 September 2022

BAGIKAN SEKARANG :

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!
!