Amal dan Ajal

Oleh: Ustad Ahmad Rusdi

Mati, wafat atau meninggal dunia
Pasti semua kan mengalami
Tiada yang tahu kapan dicabut nyawa
Hanya menunggu ajalnya nanti

Penyebab wafat beragam cara
Tetapi hanya satu kematian
Corona salah satu penyebab saja
Mencegahnya patuhi peraturan

Ikhtiar Lahiriah kita lakukan
Protokol kesehatan kita taati
Bersama kita jaga kesehatan
Untuk Indonesia bebas pandemi

Tentang Kematian bersabda Nabi
Yang mengikuti mayat ada tiga hal
Harta dan keluarga pulang kembali
Yang tinggal hanya satu yaitu amal

Beruntung yang telah siap dikuburnya
Siap bekal sebelum dikuburkan
Takwa dan amal soleh slalu dijaga
Untuk bekal saat menghadap Tuhan

Jangan karena urusan dunia
Membuat kita lupa akhirat
Hedaknya kita fahami bersama Sesunguhnya ajal amat dekat

Penjelasan

  1. Pantun di atas terinspirasi dari ungkapan Syaikh Yahya bin Muadz al-Raziy sebagaimana dikutip dalam kitab Nashoih al-‘Ibad yang berbunyi:

طوبى لمن ترك الدنيا قبل أن تتركه وبنى قبره قبل أن يدخله

“berbahagialah bagi orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkan dirinya, dan berbagialah bagi orang yang membangun kuburnya sebelum memasukinya” ( Bab ketiga Maqolah kesembilan belas ).

Tidak dipungkiri dunia memang sangat berarti bagi kita, karena ia merupakan lading tempat kita menanam untuk nantinya kita menuainya di akhirat. Sebagai tempat menanam dan investasi tidak sedikit yang tergoda bahkan lalai dan mabuk dengannya, sampai meninggalkan kewajiban-kewajiban yang seharusnya dikerjakan, seperti sholat dan puasa serta kewajiban lainya. Maka beruntunglah orang yang selalu ingat tujuan hidupnya, ia selalu waspada dan mengarahkan dirinya agar tak terkena dan tergoda racun kenikmatan dunia, sehingga kesempatan hidup yang Allah berikan di dunia ini dipergunakan secara maksimal dan sebaik mungkin untuk kepentingan akhiratnya. Dan hal ini bukan berarti meninggalkan dunia sama sekali.

Dalam surat al-Qashas, Allah mengingatkan kita bahwa bahwa akhirat itu sangat penting, begitu pula dunia, ia juga penting. Nah disini dituntut kemampuan kita untuk menyesuaikan, mengatur dan memanagenya agar urusan dunia dan akhirat berjalan bersamaan. Berikut ini firman Allah tersebut.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.”(Q.S al-Qashas; 77)

Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Kasir menjelaskan tentang pentingnya menggunakan anugerah yang Allah berikan berupa harta benda dan nikmat-nikmat lainnnya untuk menambah ketaatan dan kedekatan kepada Allah SWT supaya mendapatkan pahala di akhirat kelak, serta tak melupakan urusan dunianya, dengan menempatkan hak yang lain yang harus diberikan baik kepada Tuhannya, kepada dirinya, bahkan kepada keluarganya. ( Ibnu Katsir, Tafsir ibnu Katsir, Dar al-Salam li an-Nasyr wa al-Tauzi’, Julid ke-3, hal 2.135).

Intinya tidak mengapa kita mencari kebutuhan akan dunia kita, seperti rizki dan mencari kekayaan namun jangan sampai dalam mencari keduniaan tersebut kita lalai dari kewajiban kita kepada Alla SWT. Sebagaimana kata syair berikut ini:

يامن بدنياه اشتغل * قد غره طول الامل
اولم يزل فى غفلة * حتى دنا منه الاجل
الموت ياءتى بغتة * والقبر صندوق العمل

“Wahai yang disibukkan oleh dunia Sungguh panjangnya angan-angan telah menenggelamka mereka. Bukankah mereka selalu dalam keadaan lalai – kepada Allah Hingga dekatlah ajal bagi mereka. Sesungguhnya kematian datangnya tiba-tiba dan kubur adalah tempat penyimpanan amal.

“Ya Allah jadikanlah dunia ini cukup menempel di tangan kami, jangan sampai menempel di hati kami. Allahummaj’alid dunya fi aydina wa la taj’alha fi qulubina.”

2. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya di kubur. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan yang tetap bersamanya di kubur adalah amalnya.” (HR. Bukhari, Muslim)

Akhirnya, mari kita rawat dan tingkatkan ketakwaan kita dengan cara melakukan amal-amal soleh sebagai bekal kita saat di lubang kubur maupun saat nanti kita di hisab di yaumil qiyamah. Salah satu caranya adalah dengan menjadikan anugerah dan nikmat keduniaan yang Allah berikan sebagai sarana kita untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Semoga Bermanfaat.
Ustad Ahmad Rusdi

Pendidik di Jakarta

BAGIKAN SEKARANG :

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!
!